“Sejarah Kelam: Warisan Banjir Kota Medan — Kritik atas Kepemimpinan Bobby Nasution”
Medan, 27 November 2025** — Sejumlah pengamat publik kembali menyoroti sejarah panjang banjir di Kota Medan yang menurut mereka adalah “warisan kelam” dari kebijakan infrastruktur masa lalu, khususnya saat periode pemerintahan Wali Kota Medan, Bobby Nasution. Kritikan kali ini disampaikan oleh seorang pengamat, Makyar Dalimunthe, yang menilai bahwa upaya penanganan banjir yang dijanjikan sejumlah kali justru gagal memperbaiki nasib warga — dan sebaliknya meninggalkan kota “bergelimang banjir”.
🔎 Fakta: Upaya Normalisasi & Drainase di Masa Bobby Nasution
* Pemerintah Kota Medan di bawah Bobby mengakui bahwa sebagian besar penyebab banjir adalah “masalah drainase”. Menurut pernyataan 2021, “90 persen banjir di Medan karena drainase, bukan luapan sungai”.
* Berbagai program dilakukan: normalisasi drainase di banyak kecamatan, pembersihan parit dan selokan menggunakan alat berat, serta pengerukan sungai dan parit yang mengalami pendangkalan atau penyempitan.
* Periodik juga direncanakan pembangunan “kolam retensi” sebagai penampung air sementara agar aliran ke sungai tidak langsung membanjiri kawasan perumahan. Titik yang disebut antara lain di depan kampus Universitas Sumatera Utara (USU) dan di Martubung.
* Namun, pada praktiknya, ketika terjadi hujan deras, banyak kawasan di kota masih tergenang air — walaupun drainase sudah dibangun — karena sungai sudah terlalu penuh dan sistem drainase tak mampu menyalurkan air ke sungai.
⚠️ Kritik Makyar Dalimunthe: “Program Mangkrak & Kegagalan Sistemik”
Menurut Makyar Dalimunthe — berdasarkan kerangka kritik yang Anda sampaikan — ada sejumlah catatan pahit:
* Meskipun sejumlah proyek drainase, normalisasi sungai, dan rencana kolam retensi dicanangkan, hasilnya jauh dari harapan: banjir tetap terjadi, bahkan di ruas jalan protokol dan kawasan vital. Hal ini menunjukkan bahwa apa yang seharusnya menjadi “warisan positif” telah berubah menjadi “warisan problematik”.
* Pembuatan kanal/sungai baru, kanal besar, resapan air, dan sistem penyimpanan air hujan belum dijalankan secara serius atau terencana — membuat kota tetap rentan saat hujan intens.
* Ada kesan bahwa program-program tersebut mangkrak, atau tidak diselesaikan secara tuntas — terutama di titik-titik rawan banjir lama yang seharusnya jadi prioritas.
* Kesinambungan perawatan drainase, kolam retensi, dan sistem sungai/kanal tidak dijamin — tanpa pemeliharaan jangka panjang, maka fungsi infrastruktur cepat menurun.
* Singkatnya: “reformasi struktural” seharusnya dilakukan — bukan sekadar normalisasi parsial — agar Medan bisa lepas dari stigma “kota banjir”.
🧩 Solusi yang Ditekankan — dan Seharusnya Diprioritaskan
Makyar Dalimunthe menekankan bahwa untuk mengatasi “warisan banjir” ini diperlukan:
* *Pembangunan sungai dan kanal baru yang terencana* — bukan hanya drainase kecil atau perbaikan parit. Agar kapasitas tampung air besar ketika hujan ekstrem.
* *Restorasi dan pembuatan zona resapan air, kolam retensi, dan resapan bawah tanah* di berbagai wilayah kota — untuk menampung air hujan, mengurangi aliran langsung ke drainase, dan memperlambat limpasan saat hujan berlangsung.
* *Reaktivasi dan penyelesaian program mangkrak* — memastikan proyek yang sempat diusulkan (kanal, retensi) benar-benar dijalankan dan dipelihara.
* *Pendekatan kota berkelanjutan*: perencanaan tata ruang, pohon / ruang hijau, dan sistem drainase alamiah — bukan semata beton / u-ditch.
* *Transparansi dan akuntabilitas terhadap anggaran dan pelaksanaan* — supaya dana yang dialokasikan untuk penanggulangan banjir tidak disia-siakan.
💬 Pernyataan Penutup
“Kota Medan sudah semakin urban — tetapi tanpa sistem drainase dan tata ruang yang matang, urbanisasi justru memperparah banjir. Jika program-program ditinggalkan atau mangkrak, maka kita hanya mewariskan problem bagi generasi berikutnya.
Sekarang saatnya tidak lagi sekadar janji normalisasi, tetapi membangun fondasi struktural: sungai dan kanal baru, resapan air, dan sistem drainase berkelanjutan — agar Medan benar-benar bisa bebas dari banjir,” tegas Makyar Dalimunthe.
( TIM)




.png)
